Hari ini rasanya campur aduk.
Kemarin, 18 Juli 2026, akhirnya aku menonton konser Mitski. Sekarang sudah tanggal 19 Juli, sekitar beberapa saat lagi akan berganti hari. Rasanya masih sulit dipercaya kalau hari yang selama ini kutunggu akhirnya benar-benar terjadi.
Aku merasakan begitu banyak emosi sekaligus. Lelah, lega, bahagia, bersyukur, menyesal, bangga, kecewa, semuanya hidup berdampingan. Mungkin memang begitulah rasanya menjalani sebuah momen yang sangat berarti. Tidak pernah benar-benar sempurna, tetapi justru karena itu terasa nyata.
Aku lega karena akhirnya bisa menghadiri konser itu. Aku juga lega karena berhasil menemukan outfit yang akan kupakai. Sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, outfit-ku sudah sesuai dengan konsep album terbaru Mitski. Warnanya dominan hijau, selaras dengan nuansa albumnya. Outer yang kupakai juga memiliki motif macan, yang masih berhubungan dengan tema kucing dalam album tersebut. Kalau dipikir secara objektif, outfit-ku memang nyambung.
Namun, saat berada di lokasi, rasa percaya diriku perlahan hilang. Aku melihat outfit orang-orang lain yang keren-keren, stylish, nan whimsical, seketika aku merasa underdressed. Aku merasa seperti usahaku tidak cukup. Sekarang kalau dipikir lagi, aku bertanya-tanya, kenapa aku begitu mudah merendahkan diriku sendiri? Kenapa aku lebih mudah melihat kekurangan dibanding usaha yang sudah kulakukan?
Aku juga bertemu dengan seseorang yang sangat baik. Kami hanya mengobrol sebentar, tetapi aku merasa benar-benar didengarkan. Setiap aku berbicara, dia memperhatikan dengan sungguh-sungguh, merespons dengan antusias, dan benar-benar hadir dalam percakapan itu. Sayangnya kami tidak sempat bertukar instagram karena dia harus buru-buru pulang. Sampai sekarang aku masih sedikit menyesali hal itu.
Ada penyesalan lain yang cukup besar.
Kenapa aku baru benar-benar menghafal setlist seminggu sebelum konser? Kenapa aku tidak mulai jauh-jauh hari? Padahal aku sudah tahu Mitski akan datang. Kenapa saat itu pikiranku justru habis untuk mengurusi seseorang yang bahkan belum tentu memiliki intensi yang sama terhadapku? Aku terlalu tenggelam dalam imajinasi dan obsesi yang tidak jelas arahnya. Aku menghabiskan begitu banyak energi untuk sesuatu yang belum tentu nyata, sementara hal yang benar-benar akan terjadi di depan mataku justru kurang kupersiapkan.
Aku juga baru memikirkan outfit pada pukul tiga dini hari di hari konser. Rasanya benar-benar terburu-buru.
Masalah HP juga menjadi salah satu penyesalanku. Sudah sejak sebulan sebelumnya aku memikirkan bagaimana cara merekam konser nanti, tetapi aku terus menunda merealisasikannya. Aku sempat berencana menyewa HP dari temanku, tetapi sehari sebelum konser dia mengabarkan bahwa HP itu tidak jadi bisa disewakan. Aku panik. Baru pada pukul lima pagi di hari H aku berhasil mendapatkan penyewaan HP dari orang lain, ini keberuntungan pertamaku.
Akibatnya aku tidak sempat mempelajari cara menggunakan HP tersebut. Beberapa video di awal konser hasilnya kurang jernih. Baru setelah beberapa lagu aku mulai memahami cara mengambil videonya dengan baik. Rasanya kesal sekali karena lagu-lagu awal tidak terekam sebaik yang kuinginkan. Aku sempat menyalahkan keadaan, tetapi sekarang aku sadar bahwa sebagian dari semua itu juga terjadi karena aku menunda terlalu lama.
Meski begitu, ada begitu banyak hal yang membuatku bersyukur.
Aku akhirnya bertemu dengan teman yang baru kukenal 5 hari lewat TikTok. Kami benar-benar bertemu untuk pertama kalinya di konser. Rasanya menyenangkan sekali karena aku tidak perlu menjalani semuanya sendirian. Sebelum dia datang, aku sempat merasakan sepinya berdiri sendiri di tengah lautan orang. Setelah dia datang, semuanya terasa jauh lebih hangat.
Aku masih berkomunikasi dengannya sampai sekarang. Dia empat tahun lebih muda dariku dan sedang menempuh pendidikan kedokteran. Yang paling membuatku terkesan bukan itu, tetapi kebaikan hatinya. Aku merasa dia adalah orang yang tulus.
Namun dari pertemuan itu aku menyadari sesuatu tentang diriku sendiri. Saat seseorang bersikap baik kepadaku, reaksi pertamaku justru bukan merasa senang. Aku malah merasa tidak layak menerima kebaikan itu. Aku merasa harus segera membalasnya agar tidak berutang budi. Aku merasa tidak pantas diperlakukan dengan baik.
Aku mulai memahami dari mana perasaan itu berasal. Selama SMP, SMA, bahkan di rumah, aku lebih sering bertemu dengan pengalaman yang membuatku merasa tidak dihargai. Mungkin karena terlalu lama hidup dalam lingkungan seperti itu, perlakuan baik justru terasa asing bagiku. Itu adalah luka yang selama ini tidak kusadari masih kubawa.
Aku juga belajar sesuatu yang penting. Dulu mungkin aku akan langsung mengidealkan seseorang yang bersikap baik kepadaku. Kali ini aku memilih berbeda. Aku percaya dia baik, tetapi aku tidak ingin membangun bayangan yang berlebihan tentang dirinya. Aku ingin mengenalnya sebagai manusia biasa, bukan sebagai sosok yang kusempurnakan dalam pikiranku.
Aku juga sangat bersyukur akhirnya bisa melihat Mitski secara langsung. Memang aku tidak berada di area festival, tetapi aku duduk di Tribun 1, paling depan dan di pinggir. Tempat duduk kami ternyata sangat strategis. Bahkan temanku mengatakan kami mendapat "lucky first timer", istilah untuk keberuntungan yang kadang dirasakan orang yang baru pertama kali datang ke konser. Entah benar atau tidak, tetapi aku tetap merasa beruntung.
Saat konser berlangsung, aku bernyanyi sekuat hati sampai tenggorokanku serak. Aku memang tidak tahu apakah Mitski benar-benar melihatku, tetapi ada satu momen ketika dia menghadap ke arah tribun tempatku berada. Aku memilih menyimpan momen itu sebagai kenangan yang indah.
Walaupun harus kuakui, konsernya terasa sangat singkat. Ternyata selesai sekitar pukul 21.30, padahal sebelumnya aku sempat mengira akan berlangsung sampai pukul 23.00. Rasanya seperti, "Sudah selesai? Cepat sekali."
Ada satu lagu yang sampai sekarang masih membuatku sedikit menyesal.
"I Want You."
Aku tidak merekam sama sekali lagu itu karena aku benar-benar ingin menyanyikannya. Tanganku ikut bergerak mengikuti musik sehingga aku tidak bisa memegang HP.
Anehnya, meskipun aku menyesal tidak memiliki video yang lengkap, aku juga tahu bahwa saat itu aku benar-benar hadir di dalam lagu-lagunya. Aku tidak hanya menjadi orang yang merekam. Aku menjadi orang yang mengalami momen itu. Namun, tetap saja, ada tanya yang muncul pada benakku: "apakah aku benar-benar hadir di momen itu?"
Yang paling mengejutkanku adalah apa yang terjadi setelah konser. Aku merasa ada sesuatu dalam diriku yang berubah. Aku tidak lagi ingin menghabiskan energi untuk mengobsesi seseorang yang bahkan tidak jelas intensinya kepadaku. Aku ingin mengembalikan fokus hidupku kepada diriku sendiri.
Aku ingin belajar musik dengan lebih serius.
Aku ingin kembali mendalami alat musik.
Aku ingin menulis lirik lagu.
Aku ingin menciptakan karya.
Lucunya, bahkan sehari sebelum konser, saat sedang menghafal lagu-lagu Mitski, aku berhasil menghasilkan dua karya. Pengalaman itu membuatku sadar bahwa ketika pikiranku dipenuhi oleh hal-hal yang menginspirasiku, aku justru mampu menciptakan sesuatu.
Aku juga ingin membuat sebuah karya yang terinspirasi dari pengalaman konser ini dan dari semua pelajaran yang kubawa pulang.
Hari ini aku belajar bahwa hidup tidak pernah hanya berisi satu emosi.
Bahagia bisa hadir bersamaan dengan penyesalan.
Syukur bisa berjalan berdampingan dengan rasa kecewa.
Lega bisa hidup bersama rasa ingin mengulang waktu.
Mungkin memang tidak ada hari yang benar-benar sempurna. Akan selalu ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan. Namun, itu tidak membuat harinya menjadi buruk.
Konser Mitski mungkin tidak sempurna.
Videoku ada yang blur.
Aku tidak sempat bertukar Instagram dengan seseorang.
Aku telat mempersiapkan banyak hal.
Konsernya terasa terlalu singkat.
Namun, di hari yang sama aku juga bertemu orang-orang baik, bertemu teman baru, bernyanyi bersama ratusan orang, melihat Mitski secara langsung, dan menemukan kembali bagian dari diriku yang sempat hilang.
Pada akhirnya, konser kemarin menyadarkanku bahwa kesempurnaan bukan berarti semua harus sesuai ekspektasi dan menjadi pengingatku tentang bagaimana kita sebagai insan dapat hidup berdampingan dengan berbagai macam emosi yang berlawanan dalam satu waktu dan tetap adaptif hidup secara utuh.
Comments
Displaying 0 of 0 comments ( View all | Add Comment )