Di sebuah acara amal tepatnya yang berbalut siraman rohani walau sebelumnya diselenggarakan olahraga pagi yang diperlihatkan banyak orang menari diiringi musik enerjik. Salah seorang teman lama, Ian Bahri nama orang itu. Ternyata ia seorang pengarahnya waktu mendekati terang dan udara semakin terasa lebih hangat dibanding dari detik berlalu di arloji.
Ian, namanya dulu Sopiandi Bahri. Kepadanya sering dulu berlaku rundung dengan sedikit alasan bahwa ini hanya untuk membuatnya lebih mandiri dan dewasa. Berteman dengannya akan merasa lebih akrab, tanpa perlakuan seperti itu-mungkin karena perbedaan usia.
Kata Ian, pada semua orang di sekitar. Ia dengan pengeras suara, menyatakan kalau undian akan dibuka saat siang hari. Ia pikir itu pasti terlalu lama, para pengunjung diharap bersabar dan pikirnya lagi akan merasa bosan menunggu. Tidak jauh dari kursi-kursi pengunjung utama dan pertunjukan tari tradisional selanjutnya berlangsung. Ia tidak sengaja mendengar Ian dan atasannya pula.
"Kamu mau menunggu lama?" Tanya Gustianing, atasannya seorang perempuan. Dia orang baru di kantornya habis melepas masa jandanya. Perempuan itu menikah lagi sejak masuk ke tempat kerjanya itu dan entah mengapa ini terlalu dekat sekali ia dan Gustianing duduk. Dia baru menikah dan seperti tidak merasa khawatir dengan keadaan bahwa ia adalah istri seorang pejabat yang sering keluar negeri. Tapi ini terserahnya, tidak perlu bermasalah pikirnya ini hanya untuk keakbraban antara atasan dan bawahan.
"Saya mau pulang, udara makin naik." Sahutnya menjawab. Guigio, yang hanya seorang bawahan dengan pangkat rendahan. Ia kenal siapa Ian Bahri dulu, anak yang dulu suka mengejar-ngejar perempuan lebih tua darinya. Bocah ingusan yang mulai merasakan masa pubernya. Tidak seperti Gui, introvert yang berkhayal menjadi pendekar pengembara.
Gustianing menoleh pada kawan-kawan selain dirinya dan menoleh lagi pada Gui. Ia meminta pada mereka dan Gui."Tunggu ya, kita bersama-sama pulang."
Perempuan itu bertanya pada Gui lagi. Separuh bisikan terdengar. "Undiannya ga akan ditunggu?"
Semua menggeleng. Semua sepakat pikir Gui. Undian menggoda keyakinan Gui, mungkin ini sama rasa dengan apa yang ada di benak teman-teman sekantornya. Vinnie Savitri misalnya, ia sudah terlalu kaya untuk memikirkannya. Orang tuanya punya perusahaan tapi Vinnie tidak mau merasakan terlalu lama hidup di bawah bayang orang tuanya. Laksmi Rahmi juga punya suami bekerja dan penghasilannya lebih daripada Laksmi. Dimitri Balbein, sedikit berbeda pemikiran, tapi bukan juga ia yang suka kalau ada acara undian.
Logika manapun pasti mementahkan apa itu undian.
Comments
Displaying 0 of 0 comments ( View all | Add Comment )